Terbudak Duit

TERBUDAK DUIT

ImageSebuah kisah nyata berasal dari pengalaman, yang saya ambil dalam sebuah buku ESTINOV “Antalogi Mawar di Tepi Jurang”. Sebuah judul yang cukup menarik dalam benakku, ditulis oleh kak Novilia Lutfiatul Khoiriah yang coba saya post di blog saya untuk menjadi bahan renungan, koreksi bagi kita.

Bismillahi,

Allah Azza wa Jalla berfirman,

“Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu: wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak[186] dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia, dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik (surga).” (QS. Al-Imran: 14)

Harta ibarat api. Bermanfaat dan juga berbahaya.

Bila engkau menggunakannya dengan baik dan benar, akan kau dapatkan banyak manfaat darinya.

Bila mengkau membelanjakan hartamu dijalan-Nya, niscaya makin banyak pula nikmat yang akan ditambahkan-Nya.

Bila engkau menggunakannya dengan tidak bijaksana, maka api akan membakarmu.

Bila engkau menjadikan dirimu terbudak oleh harta, niscaya tercelalah dirimu di dunia dan di akhirat.

Miris rasanya melihat realita kehidupan yang sebenarnya di dunia ini. Ternyata dunia tak seindah yang aku bayangkan. Ternyata selama ini aku begitu polos atas kenyataan-kenyataan yang ada di sekitarku. Semua orang berlomba-lomba mengumpulkan harta, baik dengan cara yang halal maupun dengan cara yang haram.

Dakwah pun terkena imbasnya. Dakwah dikomersialkan. Menjadi media untuk mencari ketenaran, kekayaan, jodoh, dan yang lainnya. Tak mau berdakwah jika tidak dibayar dengan mahal. Padahal dakwah wajib hukumnya, dan Allah lah sebaik-baiknya pemberi balasan.

Sebut saja namanya ustadz X. Beliau adalah pendakwah kondang di negeri ini. Namanya sering menghiasi media-media massa nasional. Dari segi kualitas, kami “kira” beliau cukup memadahi dan memenuhi kriteria untuk menjadi salah satu pengisi acara kami di bulan Ramadhan ini. “Muda, menarik, dan berkualitas” begitu perkiraan kami. Setelah dihubungi, tahukah bayaran yang dimintanya?

Dua puluh juta + tiket pesawat PP dua orang + wajib membeli produk yang dijualnya minimal satu kodi.

Masih cocok kah beliau disebut ustadz?

Dan kami hanya geleng-geleng kepala. Sungguh kecewa rasanya.

“Ini dakwah Ustadz, bukan konser musik, kami tidak akan menarik biaya untuk peserta yang datang nantinya, dari mana kami mendapatkan uang sebanyak itu?

Ataukah karena embel-embel Fakultas Kedokteran membuatmu gelap mata Ustadz? Mengira kami adalah orang-orang yang mudah saja dimintai hartanya. Kalaupun kami memiliki dana sebanyak yang kau minta, tak akan pernah kami berikan padamu. Apa yang kau sampaikan tidak akan pernah membekas di hati. Karena dakwahmu bukan karena-Nya, tapi karena duit semata. Lebih baik kami mengundang seseorang yang benar-benar ustadz, walaupun kurang terkenal tapi apa yang disampaikan berkah, memberikan banyak manfaat untuk orang lain.

“Semoga Allah memberimu hidaya, Ustadz.”

Pendidikan juga tidak luput dari efek negatif harta. Sogok menyogok ternyata menjadi sesuatu yang lazim di luar sana. Teringat sewaktu liburan semester I kelas XII dulu, waktu itu aku berlibur ke rumah salah seorang saudara di suatu kota. Ternyata tetangga depan rumahnya adalah “calo” yang terbiasa memasukkan orang ke Fakultas Kedokteran lewat Jalur Belakang (baca : nyogok).

“Mau kuliah di kedokteran ya Mbak?”

“InsyaAllah Pak” jawabku pendek.

“Nanti lewat saya saja Mbak, dijamin 99% keterima, tapi biayanya agak mahalan dikit, sekitar 200 juta.” Ucapnya mantap dan meyakinkan.

“Haaa nggak deh pak, saya mau coba jalur undangan dulu, lagian sayang banget duit segitu, mending dibeliin sawit.” Ujarku polos.

Dalam hati, rasanya sudah panas dan tersinggung sekali. Aku merasa diremehkan. Sejak saat itu aku semakin tertantang untuk diterima di FK melalui jalur undangan, “terima kasih Pak!”

Salah sekali bapak tersebut menawariku. Seharusnya bapak tersebut pilih-pilih mangsa, bukan asal menawarkan “jasanya” ke setiap orang. Ya, ternyata banyak sekali orang-orang diluar sana yang butuh duit dengan cara seperti diatas.mencari mangsa orang-orang berkelebihan harta yang rela “menyedekahkan” hartanya demi masuk Fakultas Kedokteran.

Satu lagi peristiwa miris dan lucu seputar dunia pendidikan yang pernah saya alami. Waktu itu salah seorang bertanya kepada saya.

“Nov, sekolah islam yang berkualitas dalam hal akademik dan agama di Jawa Timur apa ya?

“MAN 3 Malang, SMA 2 Darul Ulum, Cuma tahu itu” jawabku.

Kebetulan adikku bersekolah di SMA 2 Darul Ulum, dan ia pun bertanya banyak info mengenai sekolah tersebut.

Dipenghujung pembicaraan.

“Nov, ada link orang dalam gak?” “Biar adikku bisa pasti keterima?” Ucapnya.

Sebuah pertanyaan bodoh yang memiriskan. Ternyata dunia ini tak seindah yang kukira. Ternyata mental produk Indonesia masih jauh dari mental sukses.

“Haha gak ada. Gak pakai begituan, dulu adikku masuk kesana karena kemampuannya, bukan karena orang dalam.” Jawabku mengakhiri pembicaraan.

Bagaimana jadinya bila dunia ini dipenuhi orang-orang yang gila harta? Berdakwah karena harta. Masuk sekolah karena harta, menyogok kemana-mana demi meraih impian. Semoga saja setelah jadi pejabat nantinya tidak korupsi. Tidak memakan harta rakya agar modalnya dulu kembali. Semoga saja setelah menjadi dokter nantinya tidak membebani biaya yang tinggi pada pasiennya. Semoga saja bisa menjadi orang yang mencintai orang miskin.

Ketika harta bisa membeli segalanya

Ketika harta memperbusak manusia

Ketika harta membuat orang khilaf dan lupa diri, tak dapat membedakan yang baik dengan yang buruk

Ketika harta menjadi sembahan menyaingi-Nya

Ketika manusia memaksakan kehendaknya tanpa sadar atas kemampuan diri

Ketika manusia menginginkan cara instan dan mudah untuk mewujudkan mimpinya, menghalalkan segala cara.

Usaha minimal hasil maksimal tak akan pernah ada. Karena hukum alam berlaku, rangsangan subliminal atau rangsanga terkecil tak akan pernah sanggup menghasilkan respon sedikitpun.

 

Dari cerita yang ditulis diatas memang sangat memilukan, mengiris dada. Bagaimana tidak? Bahwa segalanya tentang uang! Dan memang “Uang bukang segalanya, tapi segalanya butuh uang!” tinggal bagaimana usaha kita untuk meraih apa-apa yang kita inginkan, mewujudkan mimpi kita dengan jalan yang Allah Azza wa Jalla ridhoi atau tidak?

Terlepas dari itu semua, tidak hanya dilingkungan kampusnya Kak Novi dulu, bahkan semuanya seluruh universitas di Indonesia, banyak sekali dakwah yang hanya untuk menjaring masa, istilahnya “Akeh-akehan Peserta” biar dipandang sebagai dakwah yang “Wah, Wow, Ajip, Luar biasa” meski pantangan/larangan-larangan Allah Ta’ala diterjang. Terbukti ketika kajian/dakwah yang diporsikan untuk banyolan-banyolan tak penting (baca: ngelawak) lebih banyak dibanding ilmu syar’i yang disampaikan. Dan memang dakwah-dakwah yang seperti ini yang disukai dikalangan masyarakat/mahasiswa apalagi menyangkut “Cinta antar anak manusia” tapi ilmu syar’i yang disampaikan minimalis. Yang saya temui hanya “Tertawa terbahak-bahak!” masyaAllah dakwah berbingkai maksiat kepada Allah Ta’ala, dakwah untuk mengolok-olok Allah! Ah, yang penting kan yang datang banyak!. Ketahuilah saudaraku bahwa ukuran keberhasilan dakwah itu tidak dinilai oleh kuantitas pesertanya melainkan kualitas ilmu yang disampaikan. Ilmu yang berlandaskan Al Quran dan Al Hadits serta sesuai pemahaman salafush sholih. Apalgi dakwah untuk komersial menimbun kekayaan, maka ilmunya pun tidak akan berkah, lebih-lebih tidak akan sampai masuk kehati dan setelah dakwah itu  selesai efeknya pun hilang.

Yang kedua berkaitan dengan pendidikan untuk meraih mimpi. Banyak sekali orang yang memang tak segan-segan untuk kehilangan banyak uang demi masuk ke perguruan tinggi favorit, jurusan ternama, dan lain-lain. Memang masalah pendidikan itu mahal, perlu biaya yang banyak untuk mendapatkannya. Tapi duit akan menjadi berkah bila digunakan dijalan yang baik atau dengan cara yang baik, begitu pula sebaliknya. Maka tak jarang kita temui seorang anak yang punya ambisi atau keinginan “pokoknya kalau gak masuk pendidikan dokter tidak kuliah!” atau orang tuanya yang memaksa kehendaknya kepada anak “Pokoknya kamu harus masuk di kedokteran” tanpa melihat kemampuan sang anak, asalkan orang tua mampu membayar dengan duit tidak jadi masalah. Namanya “Ubud Dunya/Cinta Dunia” semua bisa dibeli dengan duit. Itulah yang menjadikan para generasi lulusan yang bermental material listis, berorientasi pada duit. Mengobati pasien dengan harga segini, kalau tidak mampu membayar tidak ada pengobatan. Profesi sebagai investasi pembalik modal dan penimbun kekayaan. Semoga lulusan Kedokteran tidak ada yang seperti itu, dan lebih memperhatian kondisi saudara-saudaranya yang tidak/kurang mampu dalam berobat, sehingga bisa menjadi amal  di akhirat kelak. Jangan sampai dalam prosesnya kita mengambil jalan yang menyimpang agar apa yang kita dapatkan menjadi berkah dan bermanfaat.

Allah sudah menetapkan jalan masing-masing makhluknya termasuk manusia.

Allah Azza wa Jalla berfirman,

“Hai manusia, ingatlah akan nikmat Allah kepadamu. Adakah Pencipta selain Allah yang dapat memberikan rezki kepada kamu dari langit dan bumi ? tidak ada Tuhan selain Dia; Maka mengapakah kamu berpaling (dari ketauhidan)?” (QS. Fathir: 3)

Nah, ini surat diatas sebagai salah satu bukti dimana segala Rizki/Rejeki Allah yang menentukan/yang memberi. Kita disuruh untuk mencarinya dengan jalan yang baik, jalan yang Allah ridhoi dengan tidak menyimpang dari apa-apa yang Allah larang. Maka dari itu, mari kita tumbuhkan sifat jujur dalam diri kita. Mulai dari yang kecil, seperti: tidak mencontek ketika ujian, berusaha keras dengan usaha sendiri, meraih nilai dengan usaha sendiri, mencari nafkah/rejeki dengan usaha keras tidak meminta-minta, menunaikan kewajiban kita kepada Allah Azza wa Jalla, berbakti kepada orang tua, sekolah dengan sungguh-sungguh, dan yang lainnya.

Di akhir kata, semoga tulisan diatas menjadi nasehat untuk saya pribadi dan pembaca-pembaca yang budiman. Mari kita belajar apapun itu kepada orang yang mengetahui ilmunya, belajar agama dengan ustadz/ustadzah yang sudah jelas kemampuan dan pemahaman agamanya sesuai dengan Al Quran, Al Hadist, dan pemahaman salafush sholih jangan sampai kita asal-asalan dalam menimba ilmu. Selain itu, juga agar kita tidak menjadi manusia yang terbudak karena harta/duit, meraih segala seuatu dengan jalan yang benar, jalan yang diridhoi Allah Ta’ala meski terasa berat/sulit ketahuilah Allah Maha Kaya, Allah Maha Pemberi, dan Allah tidak akan menelantarkan hambanya yang taat atas perintah dan larangan-Nya.

Ya Allah, Hambamu memohon untuk senatiasa diberikan bimbingan kearah jalan yang Engkau ridhoi.

Ya Allah, mudahkanlah dan berikanlah kekuatan kepada hamba agar hamba mampu menjalankan dan mentaati perintah serta larangan-Mu.

Ya Allah, berikanlah hidayah kepada hamba agar hamba selalu dekat denganmu, tunjukkanlah jalan yang Engkau ridhoi, karuniakanlah rizki/rejeki yang halal nan barokah serta dapat memberikan manfaat kepada orang lain. Aamiin.

Wallahu waliyyut taufiq

 

Selesai ditulis oleh Fauzi Jatmiko, Senin, 01 Juli 2013

di Pagi nan sejuk dan cerah dukuh Tunggul, Weru, Sukoharjo.

 

Referensi:

Novilia L.K,     Abdul Mughni Rozy, dkk. 2012.ESTINOV “Antalogi Mawar Tepi Jurang”. Semarang: Pustaka Rumpun Pena

Rumaysho.com

 

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s