Soko Dhuwuran

Ujung-Ujunge “Soko Dhuwuran

(Ujung-Ujungnya Dari Atasan)

blsm-salah-sasaranDua kata di atas adalah kata-kata yang lazim saya temui terutama berkaitan dengan pembagian bantuan atau sumbangan atau yang lainnya. Terdengar aneh bila saya hanya diam membisu mendengar kata dari aparat kelurahan ketika dalam pembagian BLSM (kami bisaanya memanggil BALSEM) atau JAMKESDA atau JAMKESMAS atau BLT atau model bantuan yang lainnya dengan penerima yang menurut pandangan mata terbuka jauh di luar kriteria miskin atau kurang mampu.

Memang dalam kenyataannya menentukan kriteria miskin itu tidak lah mudah, karena hampir dikalangan warga kampong atau desa mereka rata-rata punya sawah meski begitu memang tidak terlihat kaya atau miskin, tak jarang dari sebuah keluarga yang semuanya bisa bekerja, dengan jasmani yang memungkinkan untuk bekerja lebih baik dengan pengahasilan yang lebih tetap saja masih ada yang menyebutnya miskin. Ya katanya “Soko Dhuwuran”.

Kata pamungkas “Soko Dhuwuran” yang dilontarkan oleh oknum kelurahan membuat kami sebagai warga buta mata dan pikiran terselimuti awan mendung untuk menindak lanjuti “Apakah benar semuai itu asli atau benar-benar “Soko Dhuwuran?!”

Pengalaman saya sebagai warga kampong atau desa dan juga banyak mendengar percakapan para warga ketika ngumpul (berkumpul), dari hampir semua macam metode untuk menekan atau membantu warga kurang mampu hampir 95% salah sasaran (uncategorized targets). Dari uneg-uneg (kegelisahan) warga terkait dengan BALSEM (BLSM) dan JAMKESDA yang saya mendengar dan melihat sendiri, penerimanya jauh dari kata-kata miskin atau kurang mampu atau kehidupannya layak dibanding beberapa warga lainnya. Sangat wajar sekali ketika warga kurang mampu atau menengah merasa iri ketika mendapati penerima BALSEM dan JAMKESMAS/DA adalah keluarga yang memiliki motor 3 sampai 5, hampir semua anggota keluarga sudah bekerja, kepala keluarga dan istri memiliki sehat jasmani untuk bekerja lebih, rumahnya magrong-magrong (baca: besar, tembok, bisa dibilang layak apalagi anggota keluarganya sudah mampu bekerja semua), sawah 2 sampai 5 pathok.

Ngenes dan miris sekali ketika mendapati kenyataan seperti ini kata-kata “Soko Dhuwuran” yang lebih banyak berkata dibanding dengan hati nurani. Semuanya seakan sadar akan penyeleksian dengan kategori warga miskin atau kurang mampu dan bila dinyatakan dengan kategori keluarga miskin maka warga dengan sigap dan tegas menyatakan TIDAK!!!, tapi ketika sumbangan semacam BALSEM/ BLSM atau BLT atau Jamkesmas/da turun semuanya hilang akal, hati menjadi buta, mata seolah tertidur, dan mulut yang banyak bicara bahwa SAYA JUGA MISKIN PAK, KOK SAYA TIDAK DAPAT BANTUAN ITU?!. Dasar mental miskinis yang tidak punya malu untuk berinstropeksi terkait dengan kondisi ekonomi keluarganya, bahkan ada yang merasa bangga dengan bantuan yang salah sasaran dan menimpanya tanpa menyadari lagi bahwa keluarganya itu MAMPU/SETIDAKNYA LEBIH MAMPU DIBANDING YANG LAIN baik dari segi ekonomi maupun jasmani.

Aneh memang, ketika ketua RT dimintai untuk mengumpulkan atau mengusulkan data warganya kurang mampu, banyak dari mereka juga bingung untuk menentukan. Disaat data-data warga yang kurang mampu sudah ditulis dan diusulkan lewat Pamong desa, diproses di Kelurahan, menuju Kecamatan, dan tingkat Kabupaten dan jeeeng-jeeeeeeenggg… “Kupon bantuan turun dengan nama KK yang tidak sesuai dengan data yang diusulkan oleh RT”, sang penerima mah tenang-tenang saja dalam menerima bantuan, tidak peduli kondisi KK masuk kategori mampu yang penting tinggal terima. Dan ujung-ujungnya ketika ditanyakan kepada Pamong Desa tersebut jawaban berkelas yang membungkam semua pertanyaan beruntun lainnya. Ya benar, niku SOKO DHUWURAN, KULO MBOTEN NGERTOS! (ITU DARI ATASAN, SAYA TIDAK TAHU!) jawaban anak umur 4 atau 5 tahun pun bisa mengatakan itu! Yang jadi pertanyaan selanjutnya “data dari atasan (kabupaten) itu sebelumnya dari mana? Atau Soko Dhuwuran iku dhuwur ngendi?

Semuanya ada urut-urutannya lhah! Pak Pamong/Pak Aparat Kelurahan lainnya, huznudzon perlu pak bagi kami, tapi yang namanya warga dan menyangkut sumbangan itu tidak bisa membuat tenang atau lega di kalangan KK yang seharusnya berhak menerimanya. Bahkan pak menteri dalam negeri Gamawan Fauzi mengatakan (yang saya baca di iklan berjalan di sebuah televise), “kesalahan dalam penentuan/penyaluran data BALSEM atau sumbangan lainnya itu terletak diaparat kelurahan”, ujar beliau. Pada kenyataannya memang begitu, bagaimana mau tingkatan yang lebih atasnya mau merubah data dari bawah, sedangkan yang tahu keadaan warganya adalah aparat penghubung yakni Kelurahan? Allahu a’lam, semoga Allah memberi hidayah dan taufik terhadap mereka agar dalam menjalankan perannya sesuai amanah dan tidak mengandung unsur KKN.

Dan pada akhirnya ketika semua itu telah terjadi dan tidak bisa dirubah lagi, kecuali KK yang salah sasaran mau sadar diri terhadap sumbangan/bantuan yang bukan haknya dengan memberikan kepada yang lebih berhak atau mengembalikan bantuan tersebut ke Pamong Desa biar mereka sadar kalau salah dalam menetapkan KK untuk menerima Bantuan. Maka di warung kopi atau di perempatan dan tempat ngumpul atau dirumah yang bisa dilakukan oleh KK atau warga yang kurang mampu yang tidak mendapatkan haknya atau yang sebenarnya membutuhakan bantuan tersebut adalah MENGHIBUR DIRI dengan bersendagurau dan semoga memang benar bahwa “MASIH UNTUNG PAK/BU KELUARGA KITA TIDAK MENDAPAT BANTUAN TERSEBUT, BERARTI KELUARGA KITA LEBIH BERUNTUNG/LEBIH BAIK DAN MAMPU. DAN MEREKA YANG MENERIMA BANTUAN YANG DENGAN BANGGANYA MESKI SEBENARNYA MAMPU LEBIH MEMBUTUHKAN DAN LEBIH MISKIN DARI KITA…!

Allah Maha Kaya, Rezeki Allah seluas-luasnya, dan Allah adalah pencipta yang Maha Tahu kondisi hamba-Nya dan tidak akan membiarkan hambanya sengsara.

Ya Allah mohon berikanlah kami kesehatan jasmani dan rohani agar kami kuat dan jauh dari rasa malas untuk senantiasa mengejar dan menggapai ridho dan rizki-Mu.

Ya Allah berikanlah hidayah kepada kami dan mereka untuk menyadari apa hak dan kewajiban kami terhadap Mu, serta hak dan kewajiban kami terhadap sesama saudara kami.

“Sesungguhnya sesudah kesulitan pasti ada kemudahan” (QS Al Insyirah : 5-6)

Fauzi Jatmiko

Jum’at, 12 Juli 2013 @ Home Sweet Home Weru Sukoharjo.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s