Masih Gagap K3L ???

ImagePerkembangan teknologi yang cepat menjadikan hampir segala kebutuhan manusia semakin diringankan dan dimudahkan. Teknologi informasi, manufaktur, transportasi, konstruksi, energi bahkan kedokteran berlomba-lomba memunculkan inovasi demi kesejahteraan manusia. Sebagai pengguna, manusia pun tidak mau ketinggalan terhadap kemajuan teknologi. Boleh jadi saat ini, hampir tidak ditemukan manusia yang gagap teknologi, berkat makin mudahnya mendapatkan informasi, makin terjangkaunya menikmati teknologi, dan makin banyaknya pilihan untuk memperoleh kesejahteraan. Seakan jika tidak memiliki gadget terbaru atau mengendarai mobil teranyar, kita dianggap kudet alias kurang update. Namun perlu disadari bahwa kemajuan teknologi memiliki dampak yang signifikan terhadap menurunnya kualitas lingkungan hidup dan meningkatnya potensi bahaya (hazard) yang dihadapi oleh manusia.

Selama ini, masyarakat awam menganggap isu Keselamatan, Kesehatan Kerja, dan Lingkungan (K3L) adalah semata-mata urusan dunia industri. Namun jika menyimak tuntutan para buruh Indonesia yang didominasi oleh buruh industri pada Hari Buruh Sedunia pada 1 Mei 2014 lalu, tak satu pun tuntutan terkait K3L yang mengemuka. Buruh Indonesia umumnya menuntut penghapusan sistem kontrak kerja, peningkatan gaji, penciptaan lapangan kerja baru, atau pencabutan sistem outsourcing. Barangkali K3L (masih) bukan menjadi fokus para buruh sebagai pelaku dunia industri yang notabene merupakan kelompok yang selalu terpapar oleh bahaya, yang berisiko sakit akibat kerja, atau yang kemungkinan besar menjadi pelaku pencemaran lingkungan.

Jika demikian, apakah fenomena ini menunjukkan bahwa budaya K3L hanya merupakan slogan pemanis di pintu gerbang pabrik yang selalu dilewati para buruh? Padahal tahun 2014 merupakan tahun terakhir dalam pencapaian visi K3 Nasional yaitu “Indonesia Berbudaya K3 Tahun 2015”. Dalam sambutannya pada Hari K3 Nasional 12 Januari 2014, Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi, Muhaimin Iskandar, menyadari bahwa Indonesia masih diliputi oleh keprihatinan dengan masih relatif tingginya kecelakaan kerja di Indonesia. Salah satu penyebab seringnya kejadian kecelakaan adalah pelaksanaan dan pengawasan K3 sekaligus perilaku selamat masyarakat K3 pada umumnya belum optimal. Tantangan global yang dihadapi saat ini adalah industri tidak hanya dituntut untuk menghasilkan produk yang bermutu baik, namun juga harus aman digunakan, ramah lingkungan, serta memenuhi standar internasional. Oleh karena itu, pelaksanaan K3L perlu mendapatkan dukungan dari semua pihak, baik pemerintah maupun masyarakat industri, untuk berperan aktif sesuai fungsi dan kewenangannya untuk melakukan upaya di bidang K3L secara terus menerus dan berkesinambungan, serta menjadikan K3L sebagai bagian dari budaya kerja di setiap kegiatan, sehingga dapat mencegah kasus kecelakaan kerja, penyakit akibat kerja, dan pencemaran lingkungan.

Terkadang perusahaan dengan entengnya menetapkan sasaran K3L-nya adalah nihil insiden, yang jika dijabarkan adalah nihil kecelakaan atau nihil cedera atau nihil pencemaran. Namun ketika diminta untuk menjelaskan program kerja untuk mencapai sasaran tersebut, seakan perusahaan kehilangan arah atau bahkan hanya mengandalkan faktor keberuntungan (luck) dan berharap kecelakaan/cedera/pencemaran tidak terjadi. Kalaupun terjadi insiden, maka dianggap memang lagi apes. Terkadang juga penerapan K3L bukan merupakan prioritas bagi perusahaan-perusahaan yang menganggap bahwa hal ini tidak memberikan keuntungan bagi perusahaan atau yang menganggap lingkup usahanya bukan meliputi pekerjaan dengan risiko tinggi. Meskipun demikian, tidak sedikit pula perusahaan yang menyadari bahwa apabila terjadi insiden, maka dapat mengancam keberlangsungan usaha yang sudah dibangun, misalkan biaya akibat tuntutan ganti rugi, pemberhentian sementara produksi karena adanya investigasi, atau pun terpaksa ditutup karena reputasinya hancur.

Lalu, mengapa penerapan K3L belum juga membudaya? Penerapan budaya K3L perlu didukung oleh penerapan sistem manajemen perusahaan yang kuat. Sistem manajemen perlu didukung oleh tingkat kepedulian (awareness) yang tinggi sehingga dapat diterapkan secara konsisten. Kepedulian akan muncul apabila pemahaman yang baik terhadap pentingnya K3L telah dimiliki. Hal ini menunjukkan bahwa sasaran K3L yaitu nihil insiden merupakan suatu perjalanan (journey) yang hanya memungkinkan untuk dicapai secara sistematis dengan melibatkan berbagai pihak yang ada di perusahaan.

Bulan Mei sebenarnya bukan hanya milik buruh, tetapi juga terdapat dua kejadian penting dalam sejarah bangsa Indonesia, yaitu Hari Pendidikan Nasional (2 Mei) dan Hari Kebangkitan Nasional (20 Mei). Meski pada tahun 2014 ini cukup tergerus oleh hingar bingar May Day, namun semangat yang dibangkitkan oleh kedua peristiwa tersebut perlu tetap ada, bahkan juga demi mendukung penerapan K3L di lingkungan kerja. Konsep Trilogi Kepemimpinan yang diajarkan oleh Ki Hajar Dewantara adalah ing ngarsa sung tuladha, ing madya mangun karsa, serta tut wuri handayani. Maksudnya adalah, ketika berada di depan harus mampu menjadi teladan (contoh baik), ketika berada di tengah-tengah harus mampu membangun semangat, serta ketika berada di belakang harus mampu mendorong orang-orang dan/atau pihak-pihak yang dipimpinnya. Sedangkan semangat kebangkitan nasional berangkat dari semangat membangkitkan rasa persatuan dan kesatuan serta nasionalisme. Jiwa kepemimpinan dan semangat untuk bangkit merupakan dua hal penting yang perlu dimiliki dalam meningkatkan kepedulian dalam penerapan K3L.

Kepedulian terhadap penerapan K3L di Indonesia memang masih lemah. Di dunia manufaktur, misalnya, masih dapat dengan mudah ditemukan bahwa pekerja belum menggunakan alat pelindung diri dengan sempurna. Atau di dunia konstruksi, masih dapat sering disaksikan bahwa pemasangan perancah (scaffolding) masih kurang memenuhi standar. Atau di dunia transportasi, masih banyak pengendara yang melanggar peraturan lalu lintas. Selain itu, terkadang pekerja enggan jika mengikuti latihan kedaruratan yang diselenggarakan manajemen gedung. Atau sering mengangkat sendiri barang yang lebih berat dari 20 kg karena merasa masih sehat dan kuat. Atau tidak melakukan housekeeping dengan baik sehingga kabel dan peralatan terserak begitu saja di area kerja. Atau melakukan pengelasan tanpa menyingkirkan barang yang mudah menyala (flammable) di lokasi kerja. Padahal kondisi-kondisi tersebut berpotensi mengancam keselamatan atau setidaknya sanggup memicu terjadinya insiden.

Tingkat pemahaman yang kurang komprehensif merupakan pemicu kurangnya kepedulian terhadap K3L. Meski manusia dibekali insting untuk bertahan hidup (survive), namun kekurangpahaman terhadap penerapan K3L akan mengakibatkan pekerja semakin rentan terkena insiden. Oleh karena ini kepemimpinan dan semangat untuk bangkit perlu digalakkan di lingkungan kerja sebagai pemicu dan pemacu kepedulian dan peningkatan pemahaman K3L. Manajemen perusahaan harus menginspirasi dan memberikan contoh penerapan K3L, para supervisor harus memberikan semangat kepada para pekerja agar tetap konsisten menerapkan K3L secara konsisten, dan para pekerja senantiasa saling mengingatkan sesama rekan kerja terkait penerapan K3L demi mencegah terjadinya insiden. Peningkatan pemahaman terhadap penerapan K3L dapat menggunakan media apa pun. Sebut saja: safety talk, safety meeting, tool box talk, training, workshop, seminar, pembelajaran mandiri, dan masih banyak lagi. Tidak hanya itu, peningkatan pemahaman juga dapat dilakukan di lapangan pada saat bekerja, misalnya melakukan penilaian risiko di lokasi kerja, menghentikan pekerjaan jika terdapat kondisi kerja yang kurang aman, atau berdiskusi dengan supervisor apabila diidentifikasi adanya penyimpangan dari rencana kerja sebelumnya. Jangan sampai hal-hal yang telah dipaparkan dengan baik pada saat tool box talk atau safety meeting malah menjadi mentah pada saat implementasi di lapangan akibat kurangnya kepedulian. Perlu diingat bahwa penerapan K3L akan efektif dengan adanya dorongan yang kuat dan positif dari manajemen dan juga penerapan sistem reward-punishment. Tanpa itu, jangan harap budaya K3L akan tiba-tiba muncul di lingkungan kerja. Budaya K3L merupakan hasil dari proses perbaikan berkelanjutan dalam penerapan K3L. Meski tujuannya adalah sama, yaitu nihil insiden, namun budaya K3L satu perusahaan dengan perusahaan yang lain mungkin akan berbeda. Kebiasaan dan praktek yang ada di internal akan menjadi paling banyak mewarnai budaya K3L perusahaan, meski tidak menutup kemungkinan untuk mengadopsi budaya K3L di perusahaan lain.

Peningkatan pemahaman K3L bukan untuk menakut-nakuti pekerja akan bahaya yang mengancam keselamatannya, namun terlebih untuk meningkatkan kepedulian pekerja terhadap risiko pekerjaan yang dihadapi sehingga pekerja dapat memahami cara-cara untuk mengelola risiko dan terhindar dari insiden. Peningkatan kepedulian juga dapat dimunculkan dalam kehidupan sehari-hari. Misalnya senantiasa memegang handrail ketika menaiki tangga, berjalan hati-hati di permukaan yang licin, mengetahui lokasi exit ketika berkunjung ke suatu gedung, konsisten menggunakan seat belt pada saat berkendara, dan senantiasa membuang sampah sesuai dengan klasifikasinya. Insiden dapat terjadi dimana saja, bahkan di lokasi yang paling aman sekali pun. Untuk itu, harus tetap waspada terhadap potensi-potensi bahaya yang ada, sehingga harus memiliki pemahaman yang baik terhadap K3L. Meski manusia tidak dapat melawan takdir, namun manusia mampu memperkecil kemungkinan terjadinya insiden agar tetap nyaman dalam melakukan aktifitas. (Hernandas)

So? Masih (bersedia) gagap K3L?

 Fauzi Jatmiko ~ Surakarta, 14 Mei 2014

Referensi:

  • copas http://indonesiasafetycenter.org/masih-gagap-k3l/
  • Iskandar, M., Sambutan Menakertrans RI dalam Bulan K3 Nasional tahun 2014, Kemenakertrans, 2014
  • Thamrin Y., Pisaniello, D., Stewart, S., Time trends and predictive factors for safety perceptions among incoming South Australian university students, Journal of Safety Research Vol. 41 Nr. 1, 2010
  • Gutierrez, R., Why don’t people just follow the rules? A psychologist’s explanation of safety management beyond behavior based safety, DuPont Sustainable Solutions, 2011

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s